Melancong ke Masjid Si Pitung di Jakarta Utara

Mushola Al-Alam Marunda dikenal juga dengan Mushola Sang Pitung. Dia sebagai salah satunya cagar budaya Betawi. Berada di tepi pantai Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, mushola ini dikitari pusara-makam dan perumahan warga.

Menyaksikan namanya, tidaklah aneh mushola ini kerap dihubungkan dengan Sang Pitung jawara Betawi. Walau rupanya tidak ada jalinan sama sekalipun.

Ya, mushola ini bukanlah dibuat atau punya Pitung. Tidak ada catatan atau cerita pahlawan Betawi itu pernah berkunjung di sini atau melaksanakan ibadah. Nama itu sekedar mempermudah orang dalam cari kehadiran mushola ini.

“Tidak ada hubungannya dengan Rumah Sang Pitung dan Pitung, kebenaran termasuk juga dalam serangkaian cagar budaya bahari yang dekat dengan Rumah Pitung, jadi banyak yang mengatakan Mushola Pitung,” tutur staff Info dan Pembelajaran Rumah Sang Pitung Sukma Wijaya (55) ke Republika baru saja ini.

Mushola yang diprediksi dibuat di tahun 1.600-an ini masih pada keadaan yang terurus secara baik. Berdasar data kelurahan Marunda, narasi warga Marunda menerangkan mushola ini dibuat oleh Falatehan (Fatahillah) ketika ada di Marunda.

Konon, Masjidnya Dibuat Hanya Satu Malam

si-pitung

Banyak narasi yang mengatakan jika masjid ini dibuat dalam kurun waktu satu malam. Hal itu jadikan mushola ini kerap disambungkan dengan seperti legenda si pitung.

Kemauanang bahkan juga peranan mushola selainnya jadi tempat melaksanakan ibadah dipandang seperti lokasi yang sakral. Beberapa pengunjung menyengaja tiba dari bermacam wilayah seperti Cirebon, Madura, dan lain-lain karena argumen itu.

Dalam riwayat, pada era ke 17, Pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Bahurekso serang Benteng Batavia. Dalam serangan ini, tentara mataram mundur sampai Marunda dan mengendalikan strategi di Mushola Al-Alam ini.

Arsitektur Masjid Si Pitung

Disaksikan dari wujud arsitekturnya, Mushola Marunda mempunyai arsitektur era 17 dan 18. Mushola ini mempunyai wujud yang serupa dengan Mushola Angke yang berada di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Keserupaan itu kelihatan sampai ubin tegel warna merah anggur sama ukuran 40×60 cm. Bangunan yang masih tetap terurus ini mempunyai atap bersusun dua dengan penyanggah empat tiang agung. Berdasar data, sampai sekarang bangunan mushola tidak alami peralihan.

Peralihan yang kelihatan disekitaran mushola ialah dibuatnya sebuah pendopo yang berada tepat di samping mushola. Umumnya dipakai untuk jemaah yang tiba. Disamping itu, kantor kesekretariatan mushola kelihatan berdiri dari sisi pendopo.

Mushola Al-Alam dipastikan sebagai cagar budaya semenjak tahun 1975. Bermacam usaha dilaksanakan Pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk melestarikan mushola ini. Hal itu kelihatan dengan masih lestarinya mushola, yang masih tetap kuat berdiri.